Romance

Dua Sisi #WFFB

Sebuah FanFiction persembahan untuk novel Remember When karya Winna Efendi. 

images (6)

src : on picture

 

Jatuh cinta pada orang yang sama… apakah dosa?

 

Lima belas menit lagi…

 

Badannya mulai bergetar, merasakan kegugupan luar biasa. Lima belas menit lagi. Ya, hanya tinggal lima belas menit lagi. Lima belas menit yang akan menjadi sebuah penentuan.

Freya berulang kali mencoba mencuri pandang dengan seseorang yang kini sedang berdiri di sampingnya. Kedua tangan Freya terkepal, meremas kedua sisi kemeja longgarnya. Tangannya sudah berkeringat dingin dari tadi, dan sekarang dia malah mengulur-ngulur waktu menatap seseorang di sampingnya.

“Emm… lapar?”

Kebodohan yang pertama.

Freya memutar bola mata kesal, merasa bodoh dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan.

Seseorang yang sedari tadi berdiri di samping Freya mulai menolehkan kepalanya lalu memiringkan wajahnya, mencoba menatap wajah Freya dengan jelas. “Sudah makan.”

Freya menelan ludah gugup. Oke, ini terlalu bodoh untuk dikategorikan dalam kebodohan yang pernah Freya lakukan. Freya menarik napas dalam lalu mencoba bersikap rileks.

“Ngg… Anggia?” Freya menelan ludah,”apa kita… maksudku, kita oke, kan?”

Anggia, orang yang sedari tadi berdiri di samping Freya langsung membuang muka. Wajahnya berubah menjadi kaku. Matanya mulai menerawang jauh, seakan melihat kilasan-kilasan memori.

“Kita nggak oke.”

Kalimat pendek Anggia sukses membuat Freya terdiam. Dari dulu Freya sudah bisa memprediksikan jawaban seperti ini yang akan Anggia katakan padanya. Tapi saat hal yang sudah ia prediksikan terjadi sekarang, rasanya terlalu sakit dan… membuat batinnya tertekan.

Freya menarik napas pelan, lalu mengembuskannya lambat-lambat. Matanya berubah menjadi sendu. “Kenapa kita harus begini, Nggi? Maksudku, aku tahu aku salah. Tapi, ini semua murni karena perasaanku. Perasaan ini datang tiba-tiba, aku nggak bisa memprediksi kalau perasaan ini akan datang, dan–“

“Dan kamu menikmatinya?” potong Anggia cepat, tepat sasaran membuat Freya terdiam.

Anggia meringis pelan, lalu perlahan menatap wajah Freya tajam. Tiba-tiba saja Freya merasa ada beban berat saat melihat tatapan tajam mata Anggia padanya.

Mata itu… kedua bola mata Anggia yang menatapnya tajam, seakan-akan membertitahunya jika ada kobaran api yang menjilat-jilat, bersiap membakar dirinya. Mata itu seakan-akan mengulitinya hidup-hidup, tidak memberikan kesempatan sedikitpun untuk Freya melarikan diri.

 

Sepuluh menit lagi….

 

“Kamu terlalu naif,” Anggia terdiam sebentar,”manusia memang seperti ini, kan? Selalu naif.”

“Nggi….”

“Aku juga sama naifnya denganmu. Kenapa aku sampai bisa percaya sama kamu? Apa aku terlalu buta untuk menyadari jika kamu juga manusia yang punya dua sisi dalam hidupnya?”

Anggia tersenyum canggung. Anggia bisa melihat jika Freya sangat terkejut dengan perkataannya. “Aku juga ingin bahagia….”

Mata Freya memanas. Runtuh sudah pertahanan yang ia buat dari dulu. Wanita yang ada di sampingnya kini membuatnya serba salah. Membuatnya serasa menjadi monster.

“Nggi, kamu, kamu, aku, maksudku… jangan ngomong kayak gitu! Kamu bisa bahagia juga! Kalau kamu merasa kamu bahagia dengan Adrian, aku akan lepas dia untuk kamu, Nggi. Aku–“

“BOHONG!” perkataan Anggia membuat Freya bungkam.

Anggia menatap Freya penuh rasa kecewa. Tidak pernah Anggia merasa sekecewa ini dalam hidupnya.

“Kamu… gimana bisa kamu ngomong kayak gitu? Maksudku… apa sebegitu bodohnya aku di matamu? Aku wanita dan aku punya perasaan yang sama denganmu. Kita sama-sama naif, kita sama-sama bodoh, dan kita sama-sama mencintai seseorang yang sama. Gimana kamu bisa menjelaskan ini semua?”

Emosi Anggia mulai keluar. Sudah cukup selama ini dia merasa tidak peduli. Sudah cukup selama ini dia menulikan telinga mendengar kebahagiaan Freya. Sudah cukup selama ini dia mematikan hatinya demi kesenangan hati Freya. Sudah cukup. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengobati luka hatinya.

“Dengar…” nada suara Anggia mulai melunak, “jika ada yang menyuruh kamu memilihku atau Adrian, mana yang kamu pilih?”

Tubuh Freya mengejang. Rasa-rasanya baru kali ini tubuhnya bereksi berlebihan seperti ini. Batinnya tertekan. Bingung memilih antara dua orang yang memiliki arti di hidupnya.

“Aku…” Freya memejamkan matanya beberapa saat lau membukanya kembali, “memilih kamu.”

 

Lima menit lagi…

 

Mata Freya memberat. Ada butiran air yang mendesak keluar dari matanya. Mengapa menjadi benar harus sesulit ini? Seharusnya Freya merasa bahagia karena dirinya berbuat benar. Tapi perbuatannya saat ini terasa sangat salah.

Anggia menatap Freya penasaran. Bagaimana bisa Freya memilihnya setelah dia merebut Adrian dari hidupnya? Tapi, rasa heran itu sirna ketika sebuah pemahaman melintas di otaknya.

“Kamu nggak perlu seperti ini.”

Freya mendongakkan kepalanya, berusaha menatap Anggia dengan jelas.

“Kamu nggak perlu seperti ini, Freya,” Anggia menatap Freya dengan senyum canggung, “semua manusia selalu punya dua sisi. Ada kalanya sisimu yang selama ini kamu pendam menjerit ingin keluar.”

Freya mulai menjadi bingung. “Maksud kamu apa?”

“Kamu nggak perlu memaksakan untuk memilihku. Satu sisi dari dirimu ingin aku bahagia, tapi sisi lainnya menginkan kamu memliki Adrian.”

Anggia merasakan hatinya mencelos. Dia tidak mengerti mengapa mulutnya bisa berbicara seperti itu. “Aku ingin dicintai Adrian, aku ingin selalu bersama Adrian, mengobrol bersama Adrian, bicara tentang masa depanku dengan Adrian, aku ingin melakukan banyak hal dengan Adrian.”

“Nggi, kamu serius dengan hal itu?” Freya berbicara dengan suara parau.

Anggi menganggukkan kepalanya mantap. “Ya. Tapi itu dulu sebelum aku kalah denganmu.”

 

Satu menit lagi….

 

“Aku dan Adrian memang tidak ditakdirkan bersama.” Anggia menatap Freya sayu. “Tapi, kenapa mengingat kamu bersama dia terasa sangat menyakitkan?”

Freya terpaku. “Aku mencintai dia, Nggi.”

“Aku tahu.”

Freya mulai panik dengan arah pembicaraan ini. Matanya mengerling gelisah. Dan tiba-tiba saja hatinya mencelos saat melihat jam yang melingkar manis di pergelangan tangannya.

 

Waktu habis.

 

“Lima belas menit yang kuberikan untukmu sudah habis. Aku harus pergi,” kata Anggia memecah lamunan Freya.

Anggia membenarkan letak tas di bahunya dan mulai berjalan menjauhi Freya sebelum perkataan Freya menghentikan langkahnya.

“Aku akan menikah, Nggi. Dengan Adrian.”

Anggi membalikkan tubuhnya kaku lalu tersenyum masam.

Freya menatap Anggia penuh harap. “Aku hanya ingin kamu tahu itu. Aku tahu kamu sulit menerimanya. Tapi, aku minta re–“

“Jatuh cinta pada orang yang sama… apakah dosa?” tanya Anggia pelan lalu menarik ujung bibirnya kaku. “Aku mencintai Adrian tapi dia mencintaimu. Bohong rasanya kalau aku bilang bahagia mendengar kabar pernikahanmu. Tapi cintaku akan jadi dosa ketika membiarkan egoku menguasai.”

Freya tak tahan lagi, dirinya kini menangis. Hatinya serasa teriris mendengar perkataan Anggia. Dia tidak pernah tahu jika semua akan menjadi rumit seperti ini.

“Aku merestui kalian. Bahagialah dengan keputusan yang kalian ambil.” Anggia tersenyum sebentar lalu membalikkan tubuhnya lagi. Kakinya melangkah kecil dengan berat. Setiap langkah kakinya seakan menjadi beban tersendiri untuknya.

Dari balik punggungnya, Anggia bisa mendengar suara isak tangis.

“Kamu juga akan bahagia.“

Anggia tersenyum tipis mendengar suara di balik punggungnya. Ya, dirinya pasti bahagia suatu saat nanti. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah jangan berbalik dan menunjukkan matanya yang juga sudah basah dengan air mata.

“Ya… aku akan bahagia.”

Satu sisi diri Anggia mengamini perkataannya sendiri, dan sisi lainnya…

menjerit pilu.

Categories: Life, Romance | Tinggalkan komentar

Diproteksi: Kissable

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Categories: Life, Romance | Tag: , | Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Diproteksi: Foolish

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Categories: Romance | Tag: , | Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.